Scheherazade and Arabian Nights

Kemarin nonton Leverage Season 3. Didalemnya ada musik indah yang judulnya Scheherazade. Saking penasarannya, saya coba cari di internet kisah tentang 1001 malam yang melegenda ini. Dan ketemu. :D Saya ceritain ya…

Alkisah, Raja Persia yang bernama Pangeran Shahrayar mendapati istri pertamanya berselingkuh di belakangnya. Hal ini sangat menyakitkan dan membuatnya menjadi pangeran jahat dan melakukan balas dendam. Sang istri dibunuh. Selain itu balas dendam berikutnya adalah, dia menikahi seorang wanita yang masih perawan setiap malam dan esok paginya, memenggal kepala si pengantin perempuan. Pembunuhan wanita-wanita muda ini berlangsung selama 3 tahun. Hingga suatu ketika, Scheherazade, wanita muda, pintar dan berbakat memutuskan untuk menikahi sang pangeran dengan maksud untuk mengubah sifat jahatnya.

Scheherazade adalah anak perempuan dari penasihat Pangeran Shahrayar. Namanya yang indah memiliki arti: daughter of the city. Tentu saja ayahnya keberatan mengetahui niat putrinya hendak menikahi sang pangeran yang terkenal jahat karena membunuh setiap wanita yang menjadi istrinya. Namun Scheherazade berkeras ingin menikahi sang pangeran, karena ingin mengubah sifatnya. Apabila dia bisa mengubah sifat pangeran, hidupnya akan selamat, namun apabila tujuannya gagal, maka nasibnya akan sama dengan wanita lainnya, menemui ajal.

Pada malam pernikahan mereka, Scheherazade menuturkan kisah dongeng yang sangat menarik perhatian Pangeran Shahrayar, dongeng itu penuh dengan kisah petualangan, humor, romantis, terkadang kisah menegangkan. Dongeng itu dituturkan oleh Scheherazade dengan bahasa yang indah dan memukau. Namun tiap menjelang matahari terbit, Scheherazade menghentikan dongengnya tepat di suatu titik yang membuat penasaran. Alhasil, Pangeran Shahrayar menunda hukuman mati bagi istrinya, Scheherazade, supaya sang istri bisa meneruskan dongengnya pada malam berikutnya.

Hal ini berlangsung hingga 1001 malam. Berarti sudah sebanyak 1001 kisah yang dituturkan Scheherazade (mungkin dari sinilah muncul istilah, kisah 1001 malam).

Dari sini muncullah kisah-kisah tentang jin, magic, dan tempat-tempat legendaris. Beberapa diantara kisahnya mungkin sudah sering kita dengar seperti cerita tentang Harun Al-Rasyid, Ja’far dan Abu Nawas, Kisah tentang Aladin dan Sinbad. Scheherazade mempelajari banyak legenda, sejarah dan cerita- dan cerita tentang Raja sebelumnya dan manusia pada umumnya. Dia telah belajar banyak tentang puisi, filsafat, seni, dan ilmu-ilmu. Tidak hanya dia banyak membaca, tetapi juga dibesarkan dengan baik, sopan, dan menyenangkan untuk semua yang ditemuinya.

Kisah-kisah manis yang dituturkan Scheherazade setiap hari ternyata mampu melunturkan sifat jahat sang pangeran. Kesabaran dan kemahiran Scheherazade merangkai kata ternyata mampu mengembalikan Pangeran Shahrayar yang jahat dan lalim, kembali menjadi pangeran yang baik, bijaksana, murah hati dan penuh cinta kasih. Kisah sebanyak 1001 itu berakhir dengan kembalinya cinta sejati sang pangeran.

-Dari berbagai Sumber-

Tags:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

Narcissus

Di kota Thebes hiduplah seorang peramal yang amat terkenal. Tiresias namanya. Ramalannya selalu tepat. Banyak orang datang kepadanya minta ramalan, petunjuk, dan nasihat.

Adalah peri, mempunyai anak laki-laki bernama Narsisus. Peri itu bertanya pada Tiresias, apakah anaknya dapat hidup sampai tua. Peramal itu menjawab, “Bisa, asal ia tidak pernah mengenal dirinya sendiri.”

Sampai lama sekali, ramalan itu seakan-akan tidak mempunyai arti apapun.

Ketika Narsisus berumur enam belas tahun, ia disukai oleh banyak anak muda dan dicintai oleh banyak gadis. Tetapi ia terlalu sombong, tidak mau memperhatikan orang lain.

Sekali peristiwa, ketika ia bersama teman-temannya sedang memburu seekor rusa, peri Ekho melihatnya. Ekho tidak dapat bercakap-cakap, tapi juga tidak dapat berdiam diri kalau ada orang sedang bercakap-cakap. Ia hanya dapat mengucapkan kata-kata terakhir kalimat yang diucapkan orang lain. Ini akibat kutukan Yuno. Konon Yuno sangat marah kepada Ekho, karena Ekho mengajak berbicara terlalu lama untuk mengorek keterangan apa yang sedang dilakukan oleh suami Yuno, Yupiter.

Ketika dilihatnya Narsisus berjalan-jalan di dalam rimba, Ekho jatuh cinta. Dengan sembunyi-sembunyi ia mengikuti jejak Narsisus. Betapa besar keinginannya hendak mengajak berbicara dan membisikkan kata-kata yang lembut ke telinga Narsisus. Tetapi hal itu tidak dapat dilakukannya. Ia tidak mampu berbicara terlebih dahulu. Ia hanya dapat menunggu sampai Narsisus berbicara, lalu mengikuti dengan kata-katanya sendiri.

Pada suatu ketika, Narsisus terpisah dari teman-temannya. Ia pun berseru, “Apakah ada orang di sini?”
Ekho menjawab, “Di sini!”
Narsisus melihat ke sekeliling dengan heran. “Datanglah kemari!” teriaknya.
Sahut Ekho, “Datanglah kemari!”
Sekali lagi Narsisus memandang ke sekeliling dan seorang pun tak ada yang muncul. Ia berseru lagi, “Mengapa engkau menghindari aku?” Sekali lagi kata-kata yang sama terdengar olehnya. Ia berdiri tegak dan berdiam diri, bertanya dalam hati, suara siapakah gerangan itu. Lalu ia berseru, “Mari kita bertemu di sini!”

“Bertemu di sini!” jawab Ekho, lalu keluar dari tempat persembunyiannya, menghampiri Narsisus. Ingin sekali ia berdampingan. Tetapi Narsisus lari, sambil berseru, “Jangan sentuh aku! Lebih baik aku mati sebelum engkau menyentuh aku!”

“Sebelum engkau menyentuh aku!” sahut Ekho. Dan Ekho pun tidak dapat berbicara lebih lanjut.

Cintanya ditolak. Hal itu dirasakannya sebagai penghinaan. Ia bersembunyi di hutan. Ditutupinya wajahnya yang kemerah-merahan karena malu dengan dedaunan. Kemudian ia hidup sendiri di gua-gua. Cintanya tak padam. Bahkan semakin menyala karena ditempa oleh kesedihan. Karena kurang tidur dan dirundung sedih, badannya semakin susut. Ia makin kurus. Semua zat yang mengandung air di dalam tubuhnya menguap ke udara. Hanya tinggal tulang-tulang dan suaranya. Suaranya masih tetap kedengaran. Tulang-tulangnya menurut cerita orang telah berubah menjadi batu. Ia tetap bersembunyi di hutan-hutan dan tidak pernah terlihat lagi di bukit-bukit. Namun semua orang dapat mendengar suaranya. Suaranyalah yang masih hidup.

Bukan Ekho saja yang telah dihina oleh Narsisus. Juga pemuda-pemuda temannya sendiri. Akhirnya salah seorang pemuda yang menderita karena perlakuan Narsisus, berdoa kepada dewa-dewa, “Semoga ia jatuh cinta seperti Ekho, tetapi terhadap dirinya sendiri. Dan semoga ia tidak dapat memperoleh apa yang dicintainya!” Doa itu rupanya didengar juga oleh Dewi Nemesis.

Di tengah-tengah rimba ada sebuah kolam dengan air jernih cemerlang. Tempat itu belum pernah dikunjungi oleh gembala atau ternak yang merumput di bukit-bukit. Tidak pernah ada burung yang datang ke sana. Bahkan ranting patah pun yang jatuh dari pepohonan di sekitarnya tidak pernah mengusik ketenangan permukaan air. Di sekitar kolam itu ada tanah datar berumput yang sejuk.

Datanglah Narsisus ke tempat itu. Ia senang melihat keteduhan di tempat itu, lalu berbaring di tepi kolam. Memandanglah mukanya ke permukaan air yang jernih. Tampak bayangan wajah di dalam air. Dipandangnya dengan penuh keheranan. Ia tertegun memandang mata yang cemerlang, pipi yang lembut, leher yang halus seperti gading, dan wajah yang cantik.

Ia tidak mengetahui bahwa yang dipandangnya itu bayangan wajahnya sendiri. Ia pun jatuh cinta kepada wajahnya yang rupawan itu. Dan wajah di dalam air itu pun memandang kepada Narsisus dengan sepenuh cinta kasih.

Tidak puas-puasnya ia memandang bayangan wajahnya sendiri.

Ia bangkit, merentangkan lengannya lalu berseru kepada pepohonan di sekelilingnya, “O, kalian rimba dan pepohonan! Kalian yang menyaksikan sekian banyak percintaan, adakah orang yang lebih celaka daripada aku? Aku dapat melihat, tetapi tidak dapat menyentuh apa yang aku inginkan. Seakan-akan ada lautan luas yang memisahkan kami berdua. Sebenarnya kami hanya dipisahkan oleh air kolam. Wajahnya selalu memandangku dengan cinta kasih, senantiasa membalas senyumku, bahkan ikut menangis jika aku menangis. Tetapi mengapa ia selalu menghindar dariku?”

Dipandangnya lagi bayangannya sendiri dalam air. Ketika air matanya terjatuh di air, bayangan itu tampak gemetar dan terpecah-pecah.

“Jangan tinggalkan aku!” teriak Narsisus.
Demikianlah ia merana di tepi kolam itu.

Ekho, walaupun marah kepada Narsisus, sangat sedih ketika melihatnya. Kalau Narsisus berseru, “Aduhai!”, Ekho pun mengulangi, “Aduhai!”

Sambil memandang ke permukaan air, Narsisus berkata mesra, “Selamat tinggal, wajah yang aku cintai dengan sia-sia!” Lalu Narsisus meletakkan kepalanya di atas rumput. Maut menutupi matanya yang mengagumi keindahan wajahnya sendiri.

Peri-peri di rimba dan di sungai-sungai berduka cita atas kematiannya, sedang Ekho selalu menjawab tangis peri-peri itu. Mereka menyiapkan penguburannya dengan obor-obor dan timbunan kayu bakar. Tetapi tubuh Narsisus tidak dapat ditemukan, walaupun dicari ke mana-mana. Di tempat tubuhnya terbaring, mereka mendapati sekuntum bunga. Warnanya kuning dikelilingi kelopak-kelopak berwarna putih.

Dikutip dari : Narsisus dan Cerita-Cerita Yunani Purba Lainnya II, Sunindyo, 1977, Pustaka Jaya.

Tags: ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

Efek Pauli

Sore ini, hujan yang turun sedari siang telah menyisakan butir-butir gerimis di tepian tanah. Harumnya menguar ke udara, harum yang aku suka seperti damai yang tersebar ke mana-mana. Langit masih berwarna jingga, matahari sudah sampai di peraduannya. Seperti biasa aku dan Kim duduk-duduk di beranda rumah menikmati suasana senja. Biasanya kami saling bertukar cerita tentang kejadian yang kami lihat, alami, amati yang terjadi seharian ini.

Tadi Kim sudah bercerita bahwa hari ini dia menghadapi dosen yang menghabisi tugas research individunya. Tumben, pikirku karena biasanya dia selalu dipuji dosen-dosen mata kuliahnya tapi kali ini akhirnya ada juga dosen yang benar-benar mengimbangi pola pikirnya yang kadang berani. Kim bercerita bahwa dosen seperti inilah yang ia tunggu-tunggu, yang mampu melihat dengan benar dan tidak asal mengiyakan saja pendapat-pendapatnya. Besok ia akan menemui dosen ini lagi, sehingga malam ini tugas research itu harus selesai ia benahi kembali.

Lalu Kim bertanya dengan hariku yang kuhabiskan di laboratorium seharian ini.

” Gimana dengan harimu, Mel ? ”

”Aku? Hari ini spektrofotometer yang akan kupakai rusak. ”, kataku dengan mulut mengerucut.

”Lagi ? Oh Ya ampun, Mel. Terus bagaimana ?”, tanya Kim.

” Akhirnya aku terpaksa pergi menganalisa ke departement pusat, tinggal di sana satu-satunya spektrofotometer yang tersisa. ”, aku memaksakan satu senyum padanya. ”Hahahaha, kau tahu , Mel. Kau mirip sekali dengan Pauli, Wolfgang Pauli. Kau tentunya tahu siapa dia kan ? ”, Kim tertawa.

” Ya, Penemu asas Pauli itu, kan? Tentu saja aku tahu, Kim. Hari-hariku dihabiskan untuk mengikuti aturan elektron yang satu itu. ”, jawabku.

”Eh, memangnya ada apa dengan Pauli ? ”, aku jadi penasaran dan menanyakannya kepada Kim.

”Yang aku ingat, Ketika ada Pauli di suatu tempat maka akan selalu ada alat rusak di sekitarnya. Kurang lebih seperti itulah, sebentar aku ambilkan bukunya. ”, Kim beranjak masuk ke dalam rumah.

Selang beberapa menit kemudian, ia keluar sambil membawa satu buku tipis dan menjinjing tas netbooknya. Saat itu aku tahu, ini pasti benar-benar ada, karena kalau Kim hanya bercanda, dia tidak akan mengeluarkan netbook berharganya itu ke teras rumah.

Buku itu berjudul ”Teori Kuantum For Beginner”, buku yang sudah aku beli dari dulu sekali tapi baru aku buka separuhnya. Aku yakin pasti malah Kim yang sudah selesai membaca hampir semua buku yang ada di rumah ini, termasuk buku-buku kuliah ekonomi miliknya yang dari tebalnya saja sudah menghilangkan minatku untuk membacanya.

” Ini, buka dan bacalah lagi. Sementara itu, aku coba carikan di dunia maya tentang efek pauli itu apa. ”, ia menyerahkan buku Teori Kuantum itu kepadaku lalu membuka netbook dan mulai asyik browsing di layar mungilnya.

” Ini, lihatlah. ”, katanya menunjukkan layar netbooknya sebelum aku selesai membaca tentang Pauli di buku yang kupegang.

Wolfgang Pauli adalah salah satu raksasa Fisika Kuantum yang kita kenal dari SMA dengan Prinsip Pauli-nya. Mungkin kita juga perlu mengenal Prinsip Pauli kedua yang diamati banyak orang di sekitarnya atau lebih dikenal dengan Efek Pauli , yaitu setiap pendekatan oleh Pauli akan mengakibatkan kerusakan pada perangkat di sekitarnya.

- Bahkan konon ledakan yang menghancurkan Departemen Fisika Universitas Bern terjadi waktu kereta yang dinaiki Pauli ke rumahnya di Zurich melewati Bern.

- Fisikawan Casimir bercerita tentang sebuah paparan fisika oleh fisikawan Heitler tentang ikatan homopolar. Pauli tampak menahan kesabaran waktu mendengarkannya. Waktu boleh memberi komentar, Pauli langsung maju. Heitler duduk di sebuah kursi di ujung Podium. Pauli mulai menyerang, “Pada jarak jauh, teori ini salah akibat adanya daya tarik Waals. Pada jarak dekat, kita tahu, jelas-jelas salah juga.” Lalu ia berjalan sambil terus mendekati Heitler. “Namun ada yang memberi pernyataan bahwa sesuatu yang salah baik pada jarak jauh maupun pada jarak dekat, mungkin bisa secara kuantitatif benar pada jarak menengah.” Sekarang ia sudah dekat pada Heitler. Heitler memundurkan kursinya, yang tiba-tiba saja punggungnya patah dan membuat Heitler terjatuh. George Gamow yang juga hadir langsung berteriak, “Efek Pauli!”

- Karena ketakutan akan efek Pauli, seorang fisikawan eksperimental Otto Stern melarang Pauli ada di laboratoriumnya di Hamburg meskipun mereka bersahabat.

- Sebuah alat ukur mahal, tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba berhenti bekerja, walaupun Pauli ternyata tidak ada. James Franck , direktur lembaga ini melaporkan kejadian kepada rekannya Pauli di Zürich dengan pernyataan lucu bahwa setidaknya saat ini Pauli tidak bersalah. Namun, ternyata Pauli berada dalam perjalanan kereta api ke Kopenhagen dan sedang berganti kereta di stasiun kereta api Göttingen pada saat alat itu tiba-tiba berhenti bekerja.

- Pada tahun 1934, Pauli melihat kegagalan dari mobilnya selama tur bulan madu dengan istri keduanya sebagai bukti efek Pauli yang nyata karena terjadi tanpa penyebab eksternal yang jelas.

Efek Pauli, jika itu nyata, akan diklasifikasikan sebagai fenomena makro-psykokinetik.

” Bagaimana ? ”, tanya Kim kepadaku.
Aku masih setengah menahan tawa, bagaimana mungkin seseorang bisa dikait-kaitkan dengan alat rusak.

”Aku.. hahaha.. Aku tak akan percaya kalau tak mengalaminya sendiri. Ya, setidaknya Pauli menjadi seorang ahli teori yang sangat terkenal dan diakui di dunia keilmiahan. Meskipun ternyata dia cukup tidak bersahabat dengan alat-alat eksperimental. ”, Aku tertawa terbahak-bahak.

” Coba kau bandingakn dengan dirimu itu, sudah berapa alat yang tiba-tiba saja rusak ketika kau akan memakainya ? ”, Kim bertanya kepadaku.

”Ya, baru 5 buah sih, tapi itu kesemuanya alat analisis yang mahal. Kalau untuk alat-alat kecil dan sederhana aku tidak begitu mengingatnya. ” , jawabku.

” Ya, aku rasa kau punya kemiripan dengan Pauli . ”, Kim tersenyum sambil menutup netbooknya.

”Asal yang mirip yang baik-baik aja sih, nggak masalah. Ya, setidaknya aku tahu bahwa dari jaman dulu sudah ada seorang scientist yang selalu bermasalah dengan alat. Meski akhirnya dia tetap menjadi ahli yang terkenal. ”, aku menutup bukuku dan mengajak Kim masuk ke dalam rumah.

Di luar rumah, hujan telah berhenti dan malam telah turun sempurna memperlihatkan keanggunannya.

-Solo-

Thanks to my husband atas Info Paulinya

Tags: ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

Into the universe : Time travel

Dimensi Keempat

Waktu adalah dimensi, sama seperti lebar, panjang, dan luas.

“Di film-film seringkali menampilkan mesin yang mahal dan boros energi. Mesin itu membuat jalan menembus dimensi keempat, sebuah lorong melewati waktu. Seorang penjelajah waktu, seorang yang berani, mungkin juga orang yang gila-gilaan, disiapkan untuk sesuatu yang tidak diduga, melangka kedalam lorong waktu dan muncul di waktu yang tidak diketahui. Konsep itu mungkin sangat jauh, dan kenyataannya mungkin sangat berbeda dari ini, tapi idenya sendiri tidak begitu gila,” tulis Hawking.

Hukum fisika sebenarnya mengakomodasi gagasan perjalanan waktu, melalui portal yang disebut lubang cacing

“Yang sebenarnya adalah lubang cacing ada di sekeliling kita, hanya saja mereka terlalu kecil untuk dilihat. Mereka terdapat di sela-sela ruang dan waktu,” tulis Hawking. “Tidak ada yang datar dan padat. Jika kau lihat cukup dekat pada apapun kau akan menemukan lubang-lubang dan kerutan-kerutan didalamnya. Itu adalah prinsip dasar fisika, dan itu juga berlaku pada waktu. Bahkan sesuatu yang semulus bola pantai memiliki celah-celah kecil, kerutan dan lubang-lubang.”

Busa quantum dan lubang cacing-lubang cacing kecil

“Dibawah skala terkecil, lebih kecil dari molekul, lebih kecil dari atom, kita sampai pada sebuah tempat yang disebut busa kuantum. Ini adalah dimana lubang cacing berada. Lorong-lorong kecil atau jalan pintas melewati ruang dan waktu terbentuk secara konstan, menghilang, dan terbentuk kembali dalam dunia quantum ini. Dan mereka sebenarnya menghubungkan dua tempat yang berbeda dan dua waktu yang berbeda.”

Lorong-lorong itu, sayangnya, terlalu kecil untuk dilalui orang - besarnya hanya satu pertriliun-triliun centimeter - tapi ahli-ahli fisika percaya bahwa mungkin saja untuk menangkap sebuah lubang cacing dan membuatnya menjadi cukup besar untuk orang, atau kapal angkasa, untuk masuk, tulis Hawking.

“Secara teori, sebuah lorong waktu atau lubang hitam bisa melakukan lebih dari membawa kita ke planet lain. Jika kedua ujungnya berada di tempat yang sama, dan terpisah oleh waktu dan bukannya jarak, sebuah kapal bisa terbang kedalam dan muncul masih di sekitar Bumi, tapi di masa lalu. Mungkin dinosaurus akan menyaksikan kapal muncul untuk mendarat,” tulis Hawking.

Tapi pada akhirnya, para ilmuwan menemukan bahwa hanya perjalanan ke masa depan yang mungkin, sebagaimana hukum alam akan membuat perjalanan ke masa lalu mustahil karena hubungan antara sebab dan akibat berubah. Misalnya, jika kau bisa pergi ke masa lalu dan melakukan sesuatu yang mencegahmu lahir, bagaimana kau bisa hidup di masa depan untuk kembali ke masa kini?

Waktu seperti aliran sungai

Hawking mencurigai sinyal balik radiasi akan mematikan semua lubang cacing yang para ilmuwan coba kembangkan ke ukuran - membuat mereka berguna untuk perjalanan waktu yang sesungguhnya- yang bisa digunakan. Tapi ada cara lain: menavigasi variabel dari sungai waktu.

“Waktu mengalir seperti sungai dan tampaknya setiap dari kita terbawa arus waktu masa kini. Tapi waktu seperti sungai dengan cara lainnya. Dia mengalir pada kecepatan yang berbeda di tempat-tempat yang berbeda, dan itulah kunci perjalanan ke masa depan,” tulis Hawking.

Albert Einstein pertama kali memperkenalkan ide ini 100 tahun yang lalu bahwa seharusnya ada tempat-tempat dimana waktu berjalan lebih lambat, dan tempat-tempat lain yang berjalan lebih cepat, catat Hawking. “Dia benar.”

Buktinya, kata Hawking, ada pada jaringan satelit GPS (Global Positioning System), yang sebagai tambahan merupakan alat bantu kita bernavigasi di Bumi, mengungkapkan bahwa waktu lebih cepat daripada ruang.

“Didalam tiap pesawat angkasa ada jam yang tepat. Tapi tidak begitu akurat, karena mereka bertambah sekitar tiga per triliunan detik setiap hari. Sistem itu pun harus mengkoreksi penyimpangan itu, menyebabkan setiap perangkat GPS di Bumi melenceng sekitar enam mil sehari,” tulis Hawking.

Jam itu tidak salah - adalah tarikan Bumi yang harus disalahkan.

“Einstein menyadari bahwa material menarik waktu dan melambatkannya seperti arus pelan pada sungai. Semakin berat objeknya, makin ia menarik waktu,” tulis Hawking. “Dan kenyataan yang mengejutkan ini adalah apa yang membuka pintu kemungkinan perjalanan waktu ke masa depan.”

Lubang hitam dan terbang dengan kecepatan cahaya

Kunci perjalanan waktu adalah lubang hitam, objek yang sangat padat sehingga bahkan cahaya pun tidak dapat lolos dari tarikan gravitasinya.

“Sebuah lubang hitam … memiliki efek yang dramatis pada waktu, melambatkannya lebih dari apapun di galaksi. Itu membuatnya sebuah mesin waktu alami,” tulis Hawking.

Begini cara kerjanya:

Bayangkan sebuah kapal angkasa mengorbit lubang hitam raksasa pada pusat galaksi Bimasakti, 26,000 tahun cahaya jauhnya. Dari Bumi, itu akan terlihat seperti kapal yang membuat satu orbit setiap 16 menit, tulis Hawking.

“Tapi bagi orang-orang di dalamnya, semakin dekat ke lubang hitam ini, waktu melambat,” tulisnya. “Untuk setiap 16 menit orbit, mereka hanya mengalami delapan menit.”

Jika mereka memutarinya selama lima tahun, waktu lokal, sepuluh tahun mungkin telah berlalu di Bumi.

Skenario ini tidak menghasilkan paradoks yang melekat pada perjalanan lubang cacing, tapi ini masih tidak praktis, Hawking mengakui.

Tapi ada satu kemungkinan lagi: pergi dengan kecepatan super.

“Ini mungkin fakta aneh lain tentang jagat raya,” tulis Hawking - batas kecepatan kosmik: 186,000 mil per detik, atau setara dengan kecepatan cahaya.

“Tidak ada yang bisa bergerak secepat itu. Itu adalah salah satu prinsip terbaik yang pernah diterbitkan dalam sains,” tulis Hawking, tapi “percaya atau tidak, bepergian pada kecepatan mendekati kecepatan cahaya bisa mengantarmu ke masa depan.”

“Bayangkan sebuah jalur yang mengelilingi bumi, sebuah jalur untuk kereta super cepat. Didalamnya adalah para penumpang dengan tiket satu arah ke masa depan. Kereta itu mulai berakselarasi, semakin cepat dan semakin cepat. Dengan segera ia mengelilingi Bumi berkali-kali.

“Untuk mencapai kecepatan cahaya berarti mengelilingi Bumi tujuh kali per detik. Tapi tidak masalah seberapa energi yang dimiliki kereta itu, bisa saja ia tidak akan bisa mendekati kecepatan cahaya, karena hukum fisika melarangnya.

“Alih-alih, katakanlah mendekati,” tulis Hawking. “Sesuatu yang luarbiasa terjadi: Waktu mulai mengalir dengan lambat didalam kereta dibandingkan dunia di luarnya, seperti berada dekat lubang hitam, hanya saja lebih lagi. Segalanya di kereta itu bergerak dalam slow motion.”

Proteksi kecepatan cahaya

Ini terjadi untuk melindungi batas kecepatan kosmik, kata Hawking. Inilah alasannya:

Katakanlah ada seorang anak yang berlari ke depan kereta itu. “Kecepatan lajunya ditambahkan dengan kecepatan kereta, jadi tak bisakah dia mengubah batas kecepatan itu hanya dengan tak disengaja? Jawabannya tidak,” tulis Hawking. “Hukum alam mencegah kemungkinannya dengan melambatkan waktu di dalam kereta. Sekarang dia tidak bisa berlari cukup cepat untuk menembus batasnya. Waktu akan selalu melambat cukup untuk melindungi batas kecepatan.”

Ini adalah esensi dari mengapa perjalanan waktu ke masa depan adalah memungkinkan.

“Bayangkan bahwa kereta itu pergi dari stasiun pada 1 Januari 2050. Dia memutari Bumi berkali-kali selama 100 tahun sebelum akhirnya berhenti di tahun baru 2150. Para penumpang akan hidup satu minggu karena waktu melambat sebanyak itu juga didalam kereta. Ketika mereka keluar mereka akan menemukan dunia yang berbeda dari dunia yang mereka tinggalkan. Dalam satu minggu mereka sudah bepergian ke 100 tahun di masa depan,” tulis Hawking.

Saat ini, gerakan tercepat di Bumi berada pada lorong melingkar akselerator partikel terbesar di dunia di CERN, di Genewa.

“Ketika energi dinyalakan (partikel) berakselerasi dari nol ke 60,000 mph dalam satu fraksi dari satu detik. Meningkatkan energi dan partikel-partikel bergerak lebih cepat dan lebih cepat, sampai mereka memutari lorong itu 11,000 kali per detik, yang hampir setara kecepatan cahaya. Tapi seperti kereta tadi, mereka tidak pernah mendekati kecepatan akhir. Mereka hanya bisa mendapatkan 99.99 persen dari batasnya. Ketika itu terjadi, mereka juga mulai bepergian dalam waktu. Kita tahu ini karena beberapa partikel yang tidak berumur panjang, yang disebut pimeson. Biasanya, mereka hancur setelah satu per 25 triliun detik. Tapi ketika mereka diakselerasikan mendekati kecepatan cahaya, mereka bertahan 30 kali lebih lama.”

Untuk mengakselerasi manusia sampai pada kecepatan itu, kita harus ada di luar angkasa, Hawking menutup, mengingat bahwa sejauh ini, yang tercepat yang pernah dilalui manusia adalah 25,000 mph dicapai Apollo 10.

“Untuk bepergian menembus waktu kita harus melebihi 2,000 kali lebih cepat (daripada Apollo 10). Dan untuk melakukannya kita akan butuh kapal yang jauh lebih besar, sebuah mesin yang sungguh-sungguh besar untuk membawa bahan bakar dalam jumlah sangat besar, cukup untuk mengakselerasikannya mendekati kecepatan cahaya. Mencapai hanya dibawah batas kecepatan cahaya akan membutuhkan enam tahun dalam kekuatan penuh.

“Kita bisa, secara teori, pergi dalam jarak luarbiasa selama waktu hidup,” tulis Hawking. “Sebuah perjalanan ke tepi galaksi bisa jadi hanya akan memakan waktu 80 tahun.”

-Into the Universe : Stephen Hawking-

*Discovery channel, Minggu 19 September 2010 Jam 22.00

Tags:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

malam

Sudah malam
Pekat merayap dalam kehampaan
Dan sepi mengheningkan dunia dalam genggaman

Sedang aku?

baiklah, aku mulai mengagumi malam
Kubiarkan dinginnya menusuk mematikan angan
Kupersilakan bintangnya menyinari menenangkan

Sedang aku perlahan mulai terpesona dengan malam

Saat di mana ada jeda antara aku dan rasa
Ada batas antara kata dan irama
Dan saat dimana aku bebas mendengarkan semesta

Ya, aku rasa malam telah menaklukan kesombonganku

Karena aku tahu, aku mulai mengharapkan malam hadir di tiap lelahku

-Solo-
*Kau diam dan akupun menikmati malam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments
 Page 1 of 43  1  2  3  4  5 » ...  Last »